Tutorial Firewall
Firewall
Apa Itu Firewall ...???
Firewall merupakan suatu
cara/sistem/mekanisme yang diterapkan baik terhadap hardware , software ataupun
sistem itu sendiri dengan tujuan untuk melindungi, baik dengan menyaring,
membatasi atau bahkan menolak suatu atau semua hubungan/kegiatan suatu segmen
pada jaringan pribadi dengan jaringan luar yang bukan merupakan ruang
lingkupnya. Segmen tersebut dapat merupakan sebuah workstation, server, router,
atau local area network (LAN) anda.
Firewall secara umum di peruntukkan untuk
melayani :
1.
mesin/komputer
Setiap
individu yang terhubung langsung ke jaringan luar atau internet dan
menginginkan semua yang terdapat pada komputernya terlindungi.
2.
Jaringan
Jaringan komputer yang terdiri lebih dari satu buah komputer dan berbagai jenis topologi jaringan yang digunakan, baik yang di miliki oleh perusahaan, organisasi dsb.
KARAKTERISTIK FIREWALL
1.
Seluruh hubungan/kegiatan dari dalam ke luar , harus melewati
firewall. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memblok/membatasi baik secara
fisik semua akses terhadap jaringan Lokal, kecuali melewati firewall. Banyak
sekali bentuk jaringan yang memungkinkan.
2.
Hanya Kegiatan yang terdaftar/dikenal yang dapat
melewati/melakukan hubungan, hal ini dapat dilakukan dengan mengatur policy
pada konfigurasi keamanan lokal. Banyak sekali jenis firewall yang dapat
dipilih sekaligus berbagai jenis policy yang ditawarkan.
3.
Firewall itu sendiri haruslah kebal atau relatif kuat terhadap
serangan/kelemahan. hal ini berarti penggunaan sistem yang dapat dipercaya dan
dengan Operating system yang relatif aman.
TEKNIK YANG DIGUNAKAN OLEH FIREWALL
1.Service
control (kendali terhadap layanan)
Berdasarkan tipe-tipe layanan yang digunakan di Internet dan boleh diakses baik untuk kedalam ataupun keluar firewall. Biasanya firewall akan mencek no IP Address dan juga nomor port yang di gunakan baik pada protokol TCP dan UDP, bahkan bisa dilengkapi software untuk proxy yang akan menerima dan menterjemahkan setiap permintaan akan suatu layanan sebelum mengijinkannya.Bahkan bisa jadi software pada server itu sendiri , seperti layanan untuk web ataupun untuk mail.
2.Direction
Conrol (kendali terhadap arah)
Berdasarkan arah dari berbagai permintaan (request) terhadap layanan yang akan dikenali dan diijinkan melewati firewall.
3.User
control (kendali terhadap pengguna)
Berdasarkan pengguna/user untuk dapat menjalankan suatu layanan, artinya ada user yang dapat dan ada yang tidak dapat menjalankan suatu servis,hal ini di karenakan user tersebut tidak di ijinkan untuk melewati firewall. Biasanya digunakan untuk membatasi user dari jaringan lokal untuk mengakses keluar, tetapi bisa juga diterapkan untuk membatasi terhadap pengguna dari luar.
4.Behavior
Control (kendali terhadap perlakuan)
Berdasarkan seberapa banyak layanan itu telah digunakan. Misal, firewall dapat memfilter email untuk menanggulangi/mencegah spam.
TIPE – TIPE FIREWALL
1.Packet
Filtering Router
Packet Filtering diaplikasikan dengan cara
mengatur semua packet IP baik yang menuju, melewati atau akan dituju oleh
packet tersebut.pada tipe ini packet tersebut akan diatur apakah akan di terima
dan diteruskan , atau di tolak.penyaringan packet ini di konfigurasikan untuk
menyaring packet yang akan di transfer secara dua arah (baik dari atau ke
jaringan lokal). Aturan penyaringan didasarkan pada header IP dan transport
header,termasuk juga alamat awal(IP) dan alamat tujuan (IP),protokol transport
yang di gunakan(UDP,TCP), serta nomor port yang digunakan.
Kelebihan dari tipe ini adalah mudah untuk di implementasikan, transparan untuk pemakai, lebih cepat
Adapun kelemahannya adalah cukup rumitnya untuk menyetting paket yang akan difilter secara tepat, serta lemah dalam hal authentikasi.
Adapun
serangan yang dapat terjadi pada firewall dengan tipe ini adalah:
·
IP address spoofing : intruder (penyusup) dari luar dapat
melakukan ini
dengan cara menyertakan/menggunakan ip address jaringan lokal yanbg telah
diijinkan untuk melalui firewall.
dengan cara menyertakan/menggunakan ip address jaringan lokal yanbg telah
diijinkan untuk melalui firewall.
·
Source routing attacks : tipe ini tidak menganalisa informasi
routing
sumber IP, sehingga memungkinkan untuk membypass firewall.
sumber IP, sehingga memungkinkan untuk membypass firewall.
·
Tiny Fragment attacks : intruder (penyusup) membagi IP kedalam
bagian-bagian (fragment) yang lebih kecil dan memaksa terbaginya informasi
mengenai TCP header. Serangan jenis ini di design untuk menipu aturan
penyaringan yang bergantung kepada informasi dari TCP header. Penyerang
berharap hanya bagian (fragment) pertama saja yang akan di periksa dan sisanya
akan bisa lewat dengan bebas. Hal ini dapat di tanggulangi dengan cara menolak
semua packet dengan protokol TCP dan memiliki Offset = 1 pada IP fragment (bagian
IP)
2.Application-Level
Gateway
Application-level Gateway yang biasa juga di kenal sebagai proxy
server yang berfungsi untuk memperkuat/menyalurkan arus aplikasi. Tipe ini akan
mengatur semua hubungan yang menggunakan layer aplikasi ,baik itu FTP, HTTP,
GOPHER dll.
Cara kerjanya adalah apabila ada pengguna yang menggunakan salah
satu aplikasi semisal FTP untuk mengakses secara remote, maka gateway akan
meminta user memasukkan alamat remote host yang akan di akses.Saat pengguna
mengirimkan USer ID serta informasi lainnya yang sesuai maka gateway akan
melakukan hubungan terhadap aplikasi tersebut yang terdapat pada remote host,
dan menyalurkan data diantara kedua titik. apabila data tersebut tidak sesuai
maka firewall tidak akan meneruskan data tersebut atau menolaknya. Lebih jauh
lagi, pada tipe ini Firewall dapat di konfigurasikan untuk hanya mendukung
beberapa aplikasi saja dan menolak aplikasi lainnya untuk melewati firewall.
Kelebihannya adalah relatif lebih aman daripada tipe packet
filtering router lebih mudah untuk memeriksa (audit) dan mendata (log) semua
aliran data yang masuk pada level aplikasi.
Kekurangannya adalah pemrosesan tambahan yang berlebih pada
setiap hubungan. yang akan mengakibatkan terdapat dua buah sambungan koneksi
antara pemakai dan gateway, dimana gateway akan memeriksa dan meneruskan semua
arus dari dua arah.
3.Circuit-level Gateway
Tipe ketiga ini dapat merupakan sistem yang
berdiri sendiri , atau juga dapat merupakan fungsi khusus yang terbentuk dari
tipe application-level gateway.tipe ini tidak mengijinkan koneksi TCP end to
end (langsung)
cara kerjanya : Gateway akan mengatur kedua hubungan tcp
tersebut, 1 antara dirinya (gw) dengan TCP pada pengguna lokal (inner host)
serta 1 lagi antara dirinya (gw) dengan TCP pengguna luar (outside host). Saat
dua buah hubungan terlaksana, gateway akan menyalurkan TCP segment dari satu
hubungan ke lainnya tanpa memeriksa isinya. Fungsi pengamanannya terletak pada
penentuan hubungan mana yang di ijinkan.
Penggunaan tipe ini biasanya dikarenakan administrator percaya
dengan pengguna internal (internal users).
KONFIGURASI FIREWALL
1.Screened Host FIrewall system (single-homed bastion)
Pada konfigurasi ini, fungsi firewall akan dilakukan oleh packet
filtering router dan bastion host*.Router ini dikonfigurasikan sedemikian
sehingga untuk semua arus data dari Internet, hanya paket IP yang menuju
bastion host yang di ijinkan. Sedangkan untuk arus data (traffic) dari jaringan
internal, hanya paket IP dari bastion host yang di ijinkan untuk keluar.
Konfigurasi ini mendukung fleksibilitasdalam Akses internet
secara langsung, sebagai contoh apabila terdapat web server pada jaringan ini
maka dapat di konfigurasikan agar web server dapat diakses langsung dari
internet.
Bastion Host melakukan fungsi Authentikasi dan fungsi sebagai proxy. Konfigurasi ini memberikan tingkat keamanan yang lebih baik daripada packet-filtering router atau application-level gateway secara terpisah.
Bastion Host melakukan fungsi Authentikasi dan fungsi sebagai proxy. Konfigurasi ini memberikan tingkat keamanan yang lebih baik daripada packet-filtering router atau application-level gateway secara terpisah.
2.Screened
Host Firewall system (Dual-homed bastion)
Pada konfigurasi
ini, secara fisik akan terdapat patahan/celah dalam jaringan. Kelebihannya
adalah dengan adanya du ajalur yang meisahkan secara fisik maka akan lebih
meningkatkan keamanan dibanding konfigurasi pertama,adapun untuk server-server
yang memerlukan direct akses (akses langsung) maka dapat diletakkan
ditempat/segmenrt yang langsung berhubungan dengan internet
Hal ini
dapat dilakukan dengan cara menggunakan 2 buah NIC ( network interface Card)
pada bastion Host.
3.Screened
subnet firewall
Ini merupakan konfigurasi yang paling
tinggi tingkat keamanannya. kenapa? karena pada konfigurasi ini di gunakan 2
buah packet filtering router, 1 diantara internet dan bastion host, sedangkan 1
lagi diantara bastian host dan jaringan local konfigurasi ini membentuk subnet
yang terisolasi.
adapun
kelebihannya adalah :
Ø
terdapat 3 lapisan/tingkat pertahanan terhadap penyusup/intruder
.
Ø
router luar hanya melayani hubungan antara internet dan bastion
host sehingga jaringan lokal menjadi tak terlihat (invisible )
Ø
Jaringan lokal tidak dapat mengkonstuksi routing langsung ke
internet, atau dengan kata lain , Internet menjadi Invinsible (bukan berarti
tidak bisa melakukan koneksi internet).
LANGKAH-LANGKAH MEMBANGUN FIREWALL
1.
Mengidenftifikasi bentuk jaringan yang dimiliki
Mengetahui bentuk jaringan yang dimiliki khususnya toplogi yang di gunakan serta protocol jaringan, akan memudahkan dalam mendesain sebuah firewall
Mengetahui bentuk jaringan yang dimiliki khususnya toplogi yang di gunakan serta protocol jaringan, akan memudahkan dalam mendesain sebuah firewall
2.
Menentukan Policy atau kebijakan
Penentuan Kebijakan atau Policy merupakan hal yang harus di lakukan, baik atau buruknya sebuah firewall yang di bangun sangat di tentukan oleh policy/kebijakan yang di terapkan. Diantaranya:
Penentuan Kebijakan atau Policy merupakan hal yang harus di lakukan, baik atau buruknya sebuah firewall yang di bangun sangat di tentukan oleh policy/kebijakan yang di terapkan. Diantaranya:
1.
Menentukan apa saja yang perlu di layani. Artinya, apa saja yang
akan dikenai policy atau kebijakan yang akan kita buat.
2.
Menentukan individu atau kelompok-kelompok yang akan dikenakan
policy atau kebijakan tersebut.
3.
Menentukan layanan-layanan yang di butuhkan oleh tiap tiap
individu atau kelompok yang menggunakan jaringan.
4.
Berdasarkan setiap layanan yang di gunakan oleh individu atau
kelompok tersebut akan ditentukan bagaimana konfigurasi terbaik yang akan
membuatnya semakin aman.
5.
Menerapkankan semua policy atau kebijakan tersebut
3.
Menyiapkan Software atau Hardware yang akan digunakan Baik itu
operating system yang mendukung atau software-software khusus pendukung
firewall seperti ipchains, atau iptables pada linux, dsb. Serta konfigurasi
hardware yang akan mendukung firewall tersebut.
4.
Melakukan test konfigurasi
Pengujian
terhadap firewall yang telah selesai di bangun haruslah dilakukan, terutama
untuk mengetahui hasil yang akan kita dapatkan, caranya dapat menggunakan tool
tool yang biasa dilakukan untuk mengaudit seperti nmap.
Bastion
Host adalah sistem/bagian yang dianggap tempat terkuat dalam sistem keamanan
jaringan oleh administrator.atau dapat di sebuta bagian terdepan yang dianggap
paling kuat dalam menahan serangan, sehingga menjadi bagian terpenting dalam
pengamanan jaringan, biasanya merupakan komponen firewall atau bagian terluar
sistem publik. Umumnya Bastion host akan menggunakan Sistem operasi yang dapat
menangani semua kebutuhan (misal , Unix, linux, NT)
JENIS – JENIS FIREWALL
Firewall terbagi menjadi dua jenis,
yakni sebagai berikut :
v
Personal Firewall
Personal Firewall
didesain untuk melindungi sebuah komputer yang terhubung ke jaringan dari akses
yang tidak dikehendaki. Firewall jenis ini akhir-akhir ini berevolusi menjadi
sebuah kumpulan program yang bertujuan untuk mengamankan komputer secara total,
dengan ditambahkannya beberapa fitur pengaman tambahan semacam perangkat
proteksi terhadap virus, anti-spyware,
anti-spam, dan lainnya. Bahkan
beberapa produk firewall lainnya dilengkapi dengan fungsi pendeteksian gangguan keamanan jaringan
(Intrusion Detection System).
Contoh dari firewall jenis ini adalah Microsoft Windows
Firewall (yang telah terintegrasi dalam sistem operasi Windows XP
Service Pack 2, Windows Vista dan Windows Server 2003 Service Pack 1), Symantec Norton Personal
Firewall, Kerio Personal Firewall, dan
lain-lain. Personal Firewall secara umum hanya memiliki dua fitur utama, yakni Packet Filter Firewall dan Stateful Firewall.
v
Network Firewall
Network Firewall
didesain untuk melindungi jaringan secara keseluruhan dari berbagai serangan.
Umumnya dijumpai dalam dua bentuk, yakni sebuah perangkat terdedikasi atau
sebagai sebuah perangkat
lunak yang diinstalasikan dalam sebuah server. Contoh dari
firewall ini adalah Microsoft Internet
Security and Acceleration Server (ISA Server), Cisco PIX, Cisco ASA, IPTables dalam sistem operasi GNU/Linux, pf dalam keluarga sistem operasi Unix BSD, serta SunScreen dari
Sun
Microsystems, Inc. yang dibundel dalam sistem
operasi Solaris.
Network Firewall secara umum memiliki beberapa fitur utama, yakni apa yang
dimiliki oleh personal firewall (packet filter firewall dan stateful firewall),
Circuit Level Gateway, Application Level Gateway, dan juga NAT Firewall. Network Firewall
umumnya bersifat transparan (tidak terlihat) dari pengguna dan menggunakan
teknologi routing
untuk menentukan paket mana yang diizinkan, dan mana paket yang akan ditolak.
Fungsi Firewall
Secara fundamental, firewall dapat
melakukan hal-hal berikut:
- Mengatur dan mengontrol lalu lintas jaringan
- Melakukan autentikasi terhadap akses
- Melindungi sumber daya dalam jaringan privat
- Mencatat semua kejadian, dan melaporkan kepada administrator
Mengatur dan Mengontrol Lalu lintas jaringan
Fungsi
pertama yang dapat dilakukan oleh firewall adalah firewall harus dapat mengatur
dan mengontrol lalu lintas jaringan yang diizinkan untuk mengakses jaringan
privat atau komputer yang dilindungi oleh firewall. Firewall melakukan hal yang
demikian, dengan melakukan inspeksi terhadap paket-paket dan memantau koneksi
yang sedang dibuat, lalu melakukan penapisan (filtering) terhadap
koneksi berdasarkan hasil inspeksi paket dan koneksi tersebut.
Proses inspeksi Paket
Inspeksi paket ('packet
inspection’) merupakan proses yang dilakukan oleh firewall untuk
'menghadang' dan memproses data dalam sebuah paket untuk menentukan bahwa paket
tersebut diizinkan atau ditolak, berdasarkan kebijakan akses (access policy)
yang diterapkan oleh seorang administrator.
Firewall, sebelum menentukan keputusan apakah hendak menolak atau menerima
komunikasi dari luar, ia harus melakukan inspeksi terhadap setiap paket (baik
yang masuk ataupun yang keluar) di setiap antarmuka dan membandingkannya dengan
daftar kebijakan akses. Inspeksi paket dapat dilakukan dengan melihat
elemen-elemen berikut, ketika menentukan apakah hendak menolak atau menerima
komunikasi:
- Alamat IP dari komputer sumber
- Port sumber pada komputer sumber
- Alamat IP dari komputer tujuan
- Port tujuan data pada komputer tujuan
- Protokol IP
- Informasi header-header yang disimpan dalam paket
Koneksi dan Keadaan Koneksi
Agar dua host
TCP/IP dapat saling berkomunikasi, mereka harus saling membuat koneksi antara
satu dengan lainnya. Koneksi ini memiliki dua tujuan yaitu :
1.
Komputer dapat menggunakan koneksi tersebut untuk mengidentifikasikan dirinya kepada
komputer lain, yang meyakinkan bahwa sistem lain yang tidak membuat
koneksi tidak dapat mengirimkan data ke komputer tersebut. Firewall juga dapat
menggunakan informasi koneksi untuk menentukan koneksi apa yang diizinkan oleh
kebijakan akses dan menggunakannya untuk menentukan apakah paket data tersebut
akan diterima atau ditolak.

Ilustrasi mengenai
percakapan antara dua buah host
Kedua tujuan tersebut dapat
digunakan untuk menentukan keadaan koneksi antara dua host tersebut, seperti
halnya cara manusia bercakap-cakap. Jika Amir bertanya kepada Aminah mengenai
sesuatu, maka Aminah akan meresponsnya dengan jawaban yang sesuai dengan
pertanyaan yang diajukan oleh Amir; Pada saat Amir melontarkan pertanyaannya
kepada Aminah, keadaan percakapan tersebut adalah Amir menunggu respons dari
Aminah. Komunikasi di jaringan juga mengikuti cara yang sama untuk memantau
keadaan percakapan komunikasi yang terjadi.
Firewall dapat
memantau informasi keadaan koneksi untuk menentukan apakah ia hendak
mengizinkan lalu lintas jaringan. Umumnya hal ini dilakukan dengan memelihara
sebuah tabel keadaan koneksi (dalam istilah firewall: state table) yang
memantau keadaan semua komunikasi yang melewati firewall. Dengan memantau
keadaan koneksi ini, firewall dapat menentukan apakah data yang melewati
firewall sedang "ditunggu" oleh host yang dituju, dan jika ya, aka
mengizinkannya. Jika data yang melewati firewall tidak cocok dengan keadaan
koneksi yang didefinisikan oleh tabel keadaan koneksi, maka data tersebut akan
ditolak. Hal ini umumnya disebut sebagai Stateful Inspection.
Stateful
Packet Inspection
Ketika sebuah
firewall menggabungkan stateful inspection dengan packet inspection,
maka firewall tersebut dinamakan dengan Stateful Packet Inspection
(SPI). SPI merupakan proses inspeksi paket yang tidak dilakukan dengan
menggunakan struktur paket dan data yang terkandung dalam paket, tapi juga pada
keadaan apa host-host yang saling berkomunikasi tersebut berada. SPI
mengizinkan firewall untuk melakukan penapisan tidak hanya berdasarkan isi
paket tersebut, tapi juga berdasarkan koneksi atau keadaan koneksi, sehingga
dapat mengakibatkan firewall memiliki kemampuan yang lebih fleksibel, mudah
diatur, dan memiliki skalabilitas dalam hal penapisan yang tinggi.
Salah satu
keunggulan dari SPI dibandingkan dengan inspeksi paket biasa adalah bahwa
ketika sebuah koneksi telah dikenali dan diizinkan (tentu saja setelah
dilakukan inspeksi), umumnya sebuah kebijakan (policy) tidak dibutuhkan untuk
mengizinkan komunikasi balasan karena firewall tahu respons apa yang diharapkan
akan diterima. Hal ini memungkinkan inspeksi terhadap data dan perintah yang
terkandung dalam sebuah paket data untuk menentukan apakah sebuah koneksi
diizinkan atau tidak, lalu firewall akan secara otomatis memantau keadaan
percakapan dan secara dinamis mengizinkan lalu lintas yang sesuai dengan
keadaan. Ini merupakan peningkatan yang cukup signifikan jika dibandingkan
dengan firewall dengan inspeksi paket biasa. Apalagi, proses ini diselesaikan
tanpa adanya kebutuhan untuk mendefinisikan sebuah kebijakan untuk mengizinkan
respons dan komunikasi selanjutnya. Kebanyakan firewall modern telah mendukung
fungsi ini.
Melakukan
autentikasi terhadap akses
Fungsi fundamental firewall yang kedua adalah firewall dapat
melakukan autentikasi terhadap akses.
Protokol
TCP/IP dibangun dengan premis bahwa protokol tersebut mendukung komunikasi yang
terbuka. Jika dua host saling mengetahui alamat IP satu sama lainnya, maka
mereka diizinkan untuk saling berkomunikasi. Pada awal-awal perkembangan
Internet, hal ini boleh dianggap sebagai suatu berkah. Tapi saat ini, di saat
semakin banyak yang terhubung ke Internet, mungkin kita tidak mau siapa saja
yang dapat berkomunikasi dengan sistem yang kita miliki. Karenanya, firewall
dilengkapi dengan fungsi autentikasi dengan menggunakan beberapa mekanisme
autentikasi, sebagai berikut:
ü
Firewall dapat meminta input dari pengguna
mengenai nama pengguna (user name) serta kata kunci (password). Metode ini
sering disebut sebagai extended authentication atau xauth. Menggunakan xauth
pengguna yang mencoba untuk membuat sebuah koneksi akan diminta input mengenai
nama dan kata kuncinya sebelum akhirnya diizinkan oleh firewall. Umumnya,
setelah koneksi diizinkan oleh kebijakan keamanan dalam firewall, firewall pun
tidak perlu lagi mengisikan input password dan namanya, kecuali jika koneksi
terputus dan pengguna mencoba menghubungkan dirinya kembali.
ü
Metode kedua adalah dengan menggunakan sertifikat digital dan kunci publik. Keunggulan
metode ini dibandingkan dengan metode pertama adalah proses autentikasi dapat
terjadi tanpa intervensi pengguna. Selain itu, metode ini lebih cepat dalam
rangka melakukan proses autentikasi. Meskipun demikian, metode ini lebih rumit
implementasinya karena membutuhkan banyak komponen seperti halnya implementasi infrastruktur kunci publik.
ü
Metode selanjutnya adalah dengan menggunakan
Pre-Shared Key (PSK) atau kunci yang telah diberitahu kepada pengguna. Jika
dibandingkan dengan sertifikat digital, PSK lebih mudah diimplenentasikan
karena lebih sederhana, tetapi PSK juga mengizinkan proses autentikasi terjadi
tanpa intervensi pengguna. Dengan menggunakan PSK, setiap host akan diberikan
sebuah kunci yang telah ditentukan sebelumnya yang kemudian digunakan untuk
proses autentikasi. Kelemahan metode ini adalah kunci PSK jarang sekali
diperbarui dan banyak organisasi sering sekali menggunakan kunci yang sama
untuk melakukan koneksi terhadap host-host yang berada pada jarak jauh,
sehingga hal ini sama saja meruntuhkan proses autentikasi. Agar tercapai sebuah
derajat keamanan yang tinggi, umumnya beberapa organisasi juga menggunakan
gabungan antara metode PSK dengan xauth atau PSK dengan sertifikat digital.
Dengan mengimplementasikan proses
autentikasi, firewall dapat menjamin bahwa koneksi dapat diizinkan atau tidak.
Meskipun jika paket telah diizinkan dengan menggunakan inspeksi paket (PI) atau
berdasarkan keadaan koneksi (SPI), jika host tersebut tidak lolos proses
autentikasi, paket tersebut akan dibuang.
Melindungi
sumber daya dalam jaringan privat
Untuk Yang SoftCopy nya anda bisa Download dibawah ini..!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar